BERITABATAM.COM, Anambas – Pasokan ikan di Kabupaten Kepulauan Anambas mulai menipis dalam tiga hari terakhir.
Situasi ini langsung memukul harga ikan di pasar, membuat pedagang dan pembeli sama-sama mengeluh.
Penyebab utama kelangkaan ini adalah musim penghujan yang kini melanda Anambas.
Cuaca buruk membuat nelayan tidak berani melaut terlalu lama.
Produksi ikan pun otomatis merosot tajam.
Pantauan di Pasar Ikan Tarempa Barat pada Senin, 8 September 2025, banyak lapak pedagang kosong.
Pedagang yang masih bertahan hanya menjual dalam jumlah terbatas dengan harga yang lebih tinggi dari biasanya.
Harga ikan tongkol misalnya, kini meroket di kisaran Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu per ekor dengan berat lebih dari satu kilogram.
Angka ini lebih tinggi dibanding harga normal di hari-hari biasa.
Sementara itu, ikan manyuk atau ikan putih sagai masih bertahan dengan harga Rp 50 ribu per empat ekor.
Untuk jenis ini, pedagang menyebut harganya masih dianggap normal.
Namun, ikan selar tidak luput dari kenaikan harga.
Jika sebelumnya dijual Rp 25 ribu per lima ekor, kini harganya melonjak menjadi Rp 35 ribu.
Kenaikan ini cukup memberatkan pembeli setia di pasar.
“Ikan susah sekarang, cuaca hujan jadi nelayan ke laut cuma sebentar saja. Jadi produksi ikan tak maksimal,” ujar Yanto, pedagang ikan di Pasar Tarempa.
Yanto mengungkapkan, selain cuaca, menipisnya pasokan juga disebabkan pola distribusi.
Banyak ikan yang ditangkap nelayan justru langsung masuk ke tangan penampung.
Dari penampung, ikan-ikan itu kemudian dikirim ke Kijang untuk dipasarkan lebih luas, terutama ke Bintan dan Tanjungpinang.
Akibatnya, stok ikan di pasar lokal Anambas ikut terkuras.
“Ikan yang dipenampung pun sudah diantar ke Kijang. Jadi stok kita di sini menipis,” kata Yanto menambahkan.
Meski kondisi cukup sulit, Yanto memprediksi kelangkaan ini hanya berlangsung singkat.
Ia memperkirakan dalam waktu satu minggu, pasokan ikan bisa kembali normal.
Menurutnya, pasokan akan pulih begitu kapal nelayan besar pulang dari laut.
Sebagian hasil tangkapan biasanya dijual ke pasar lokal, meskipun sisanya tetap dikemas untuk dikirim ke luar daerah.
“Biasa kalau kapal besar pulang, ikan-ikan ini sebagian dilempar ke pasar sini. Sisanya mereka simpan untuk dikemas ke Kijang,” jelasnya.
Kelangkaan pasokan ikan ini menjadi alarm keras bagi daerah kepulauan seperti Anambas.
Meski dikenal kaya laut, kondisi cuaca tetap bisa membuat pasar lokal seret pasokan.
Dan ketika pasokan seret, harga pun melonjak tak terkendali.
Pada akhirnya, masyarakat kecil yang paling merasakan dampaknya.
Nelayan tak bisa banyak melaut, pedagang kesulitan stok, sementara pembeli terpaksa membayar lebih mahal untuk kebutuhan sehari-hari. (ria fahrudin)




