BERITABATAM.COM, Batam – Menyambut Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2026, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Batam diisi dengan edukasi pelajar berupa workshop literasi dan pelalatihan Jurnalis.
Kegiatan ini telah dimulai sejak Sabtu 10 Januari 2026 lalu dengan mengedukasi ratusan pelajar di SMPN 60 Batam.
Dan pada Senin 12 Januari 2026, Tim Pendidikan PWI Kota Batam menggelar edukasi literasi dan jurnalistik lagi di SMPN 52 Batam
Acara diadakan di Aula sekolah dan dikuti sekitar 115 pelajar perwakilan kelas VII, VIII, dan IX.
Kedatangan Tim Pendidikan PWI Kota Batam pagi itu disambut antusias para pelajar, karena kedatangannya bukan sekedar membawa spanduk semata.
Melainkan membawa api kecil bernama literasi dan jurnalistik, untuk dititipkan kepada generasi muda.
Dengan semangat HPN 2026 yang kian mendekat, langkah PWI Kota Batam menuju sekolah-sekolah menjadi ikhtiar sunyi namun bermakna.
Dengan penuh semangat mereka berkumpul, duduk rapat, membuka telinga dan hati, bersiap menerima pengetahuan yang mungkin kelak akan mengubah cara mereka memandang dunia.
Saat itu penyampaian materi oleh Arment Aditya dari Bidang Pendidikan PWI Batam membuka ruang kesadaran dengan data yang menggugah sekaligus getir.
Indonesia, menurut survei Most Littered Nation in the World, ternyata berada di peringkat 60 dari 61 negara dalam minat baca atau literasi.
Hal ini dikarenakan dari seribu anak Indonesia, hanya satu orang yang gemar membaca.
Angka-angka itu melayang di udara kelas, menyentuh nalar, mengetuk nurani.Namun pagi itu bukan tentang ratapan. Ini tentang harapan.
Sementara Kepala SMPN 52 Batam, Drs Edison, saat membuka kegiatan dengan nada optimistis.
Baginya, kehadiran PWI Kota Batam bukan sekadar pelatihan singkat, melainkan suntikan energi baru bagi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang telah lama berdenyut di sekolah yang berdiri sejak 2014 lalu.
“Sebelumnya, literasi di SMPN 52 telah berjalan rutin setiap minggu. Murid tampil bercerita tentang kebudayaan Kepri, lalu merangkumnya,” ujar Edison.
Ia berharap para siswa benar-benar menyerap materi bukan hanya untuk hari ini, tetapi demi masa depan mereka sendiri.
Semangat literasi ini sejalan dengan HPN 2026 yang akan digelar di Serang, Banten, 9 Februari mendatang.
Dukungan pun mengalir dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam.
Kepala Dinas Pendidikan, Hendri Arulan, mendorong PWI Kota Batam untuk terus aktif menularkan literasi dan pelatihan jurnalistik ke sekolah-sekolah.
Ketua PWI Kota Batam, M. A. Khafi Anshary, yang hadir membuka kegiatan, menegaskan bahwa pendidikan adalah kerja bersama.
“Ini bukan hanya tanggung jawab sekolah. Literasi adalah urusan kita semua,” katanya.
Di tengah derasnya arus informasi digital, ia mengingatkan pentingnya kemampuan membaca secara kritis agar pelajar tak mudah terseret hoaks dan kabar tak terverifikasi.
“Literasi adalah tameng,” tegasnya.
“Ia melindungi kita dari kebisingan informasi yang menyesatkan.”
Workshop kemudian berlanjut dalam sesi kedua. Pada sesi pertama, Harment mengupas Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagai fondasi kecerdasan.
Membaca, katanya, adalah jendela dunia. Buku adalah sahabat yang sering ditinggalkan karena gawai.
“Jangan biarkan buku menangis di perpustakaan,” ucapnya, disambut senyum dan anggukan para siswa.
Ia menyoroti ironi zaman, infrastruktur bacaan di Indonesia tergolong baik, perpustakaan tersedia, namun minat membaca masih tertinggal jauh.
Dunia digital yang serba cepat kerap membuat daya pikir anak melemah, karena minimnya kompetisi akademik dan pembiasaan membaca mendalam.
Karena itu, literasi harus terus digerakkan, tanpa lelah.
Beragam tips praktis dibagikan, mulai pembiasaan membaca oleh guru, sudut baca, pohon literasi, mading aktif, resume kegiatan, lomba literasi, hingga penerbitan majalah sekolah.
Semua itu bukan sekadar program, melainkan cara membangun budaya.
Pada sesi kedua, suasana kelas semakin hidup.
Siswa diajak menyelami dunia jurnalistik sekolah: mengenal profesi jurnalis, menyusun berita, teknik wawancara, hingga latihan menulis.
Kata demi kata dirangkai, pikiran mulai berani berbicara.
“Pelatihan jurnalis idealnya berjalan dua tahun. Namun semoga pertemuan singkat ini bisa menjadi awal,” ujar Arment menutup sesi.
Dan pagi itu, di SMPN 52 Batam, api kecil bernama literasi mulai menyala.
Ia mungkin belum besar, namun cukup terang untuk menuntun langkah, dari ruang kelas, menuju masa depan terwujudnya ‘Generasi Indonesia Emas 2045. (ria fahrudin)




