BERITABATAM.COM, Tanjungpinang – Kekayaan budaya Suku Laut di Kepulauan Riau (Kepri) akan hadir di indonesiana.Tv dan layar Festival-Festival film internasional melalui film pendek drama keluarga berjudul Samudra Di Atas Laut.
Film ini menghadirkan kisah hangat tentang perjalanan seorang anak Orang Laut bernama Samudra yang menemukan makna keluarga, identitas, serta hubungan manusia dengan alam.
Film ini bercerita tentang Samudra, seorang anak Orang Laut yang diam-diam berlayar ke laut bersama teman-temannya.
Namun perjalanan tersebut berubah ketika mereka terseret arus dan menghadapi situasi tidak terduga.
Dalam kondisi itu, Samudra mulai memahami pesan leluhurnya tentang “mendengar laut” dan belajar bahwa alam bukan hanya tempat mencari kehidupan, tetapi juga bagian dari jati diri yang harus dijaga.
Produser Samudra Di Atas Laut, Syahru Boi, mengatakan film ini hadir karena melihat Suku Laut sebagai bagian penting dari identitas budaya Kepri yang memiliki banyak pengetahuan tradisional, namun belum banyak diangkat melalui karya sinema.
“Kami ingin menghadirkan sisi kehidupan Orang Laut yang hangat, dekat, dan manusiawi melalui sudut pandang anak-anak. Film ini bukan hanya tentang laut, tetapi tentang keluarga, warisan budaya, dan cara manusia menghargai alam,” ujar Syahru Boi, Selasa, 23 Juni 2026.
Melalui Samudra Di Atas Laut, tim produksi berharap film ini dapat menjadi jembatan antara budaya lokal dengan penonton yang lebih luas, baik nasional maupun internasional.
“Semoga film ini bisa memperkenalkan kekayaan budaya Orang Laut Kepri dan menjadi pengingat bahwa banyak pengetahuan tradisional yang masih relevan untuk kita dengarkan hari ini,” katanya.
Proses produksi film ini mengambil lokasi di wilayah Kepri, khususnya kawasan Kawal dan Pantai Dugong, Bintan.
Lokasi tersebut dipilih karena memiliki hubungan kuat dengan kehidupan masyarakat Orang Laut, mulai dari kawasan permukiman hingga keindahan laut dan alam bawah laut yang menjadi bagian dari keseharian mereka.
Selain melibatkan talenta lokal, film ini juga menghadirkan aktor profesional. Karakter Ayah Samudra akan diperankan oleh Faiz Vishal, sementara Ibu Samudra diperankan oleh Sabina Aksa.
Sebelum produksi dimulai, tim film melakukan riset langsung ke kehidupan masyarakat pesisir Bintan sejak April 2026.
Kemudian, mulai 14 Juni, produser (Syahru Boi) bersama sutradara (Boy Ista) dan asisten sutradara (Ejak) datang langsung untuk melakukan pemilihan lokasi, casting, serta workshop agar cerita yang dihasilkan tetap jujur dan sesuai dengan realitas kehidupan Orang Laut.
“Dengan melibatkan warga lokal, kami ingin dunia yang ditampilkan terasa lebih hidup dan autentik. Anak-anak Bintan menjadi bagian penting dalam membawa cerita ini,” tuturnya.
Asisten Produser, Nindy, mengatakan proses syuting direncanakan berlangsung pada awal Juli 2026. Produksi ini mendapat dukungan dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bintan, Arief Sumarsono.
“Tantangan terbesar adalah kondisi cuaca yang sulit diprediksi, serta bagaimana menghadirkan budaya Orang Laut secara autentik tanpa kehilangan unsur hiburan dan drama,” ujarnya.
Produksi di wilayah pesisir tentu harus menyesuaikan dengan alam dan kondisi pemain anak-anak, tambahnya, film ini dapat membantu sebagai promosi budaya suku laut di khalayak luar nasional dan internasional. ***




