BERITABATAM.COM, Kabupaten Semarang – Gemuruh mesin pengaduk semen seketika luruh, berganti riak haru yang merayap di pelataran Dusun Cukil.
Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-129 Kodim 0714/Salatiga membuktikan bahwa pengabdian tidak melulu tentang metrik fisik.
Program ini menjadi ruang social engagement yang efektif, memicu ripple effect berupa jembatan empati yang melampaui sekat seragam militer dan warga.
Rasa kekeluargaan yang pekat mendorong Prada Dicky (23), anggota Satgas TMMD dari Brigif TP 43/Muria Kudus, melangkah melampaui tugas utamanya di sektor pengecoran jalan.
Meski berpeluh di proyek pengerasan jalan desa, ia telah membangun chemistry yang kuat hingga menganggap keluarga Bapak Pujiyono seperti saudara sendiri.
Kedekatan ini merupakan output alami lantaran base camp pasukan Satgas TMMD Kodim 0714/Salatiga berada tepat di sebelah rumah Bapak Pujiyono yang akan direhabilitasi dalam program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Di sela waktu istirahat, prajurit muda ini membagikan contact support berupa paket sembako kepada Ibu Ayu (35), keluarga Bapak Pujiyono di Dusun Cukil RT 07 RW 02 Desa Cukil, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, pada Rabu, 22 Juli 2026.
Interpersonal approach yang hangat ini melahirkan impresi mendalam bagi kedua belah pihak.
“Kami sudah menganggap bapak dan ibu di sini seperti orang tua sendiri. Berbagi sembako ini adalah bentuk feedback ketulusan atas kebaikan mereka yang sudi rumahnya bertetangga langsung dengan base camp kami,” ujar Prada Dicky lugas.
Di sisi lain, Ibu Ayu tidak mampu menyembunyikan rasa harunya saat menerima bantuan.
“Kehadiran para tentara di samping rumah tidak hanya membangun dinding yang kokoh, tetapi juga membawa kehangatan baru. Mereka sudah seperti keluarga kandung kami sendiri,” ungkap Ibu Ayu.
Aksi spontan ini mengonstruksi ulang makna kemanunggalan TNI dan rakyat. Secara sosiolinguistik, frasa “bahan kontak” tidak lagi menjadi sekadar jargon administratif militer yang kaku.
Frasa tersebut mengalami shifting makna menjadi metafora dari “kontak rasa” dan manifestasi konkret dari ketulusan interpersonal.
TMMD terbukti bukan hanya tentang kalkulasi material fisik atau tumpukan bahan bangunan semata.
Operasi bakti ini adalah ruang kultural tempat bertemunya empati dan rajutan persaudaraan yang karib.
Di bawah langit Tengaran, sekat formalitas runtuh, menyisakan gotong royong yang hidup dalam sanubari. (sholeh)




