BERITABATAM.COM, Jakarta – Usianya masih 14 tahun, tapi Anggara, harus berjuang untuk berjuang melawan Acute Myeloid Leukemia (AML), salah satu jenis kanker darah yang membutuhkan pengobatan intensif dan berkelanjutan.
Diungkap oleh sang ayah, Heri Nurdiyanto, Anggara harus menjalani rangkaian kemoterapi di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta sejak diagnosis tegak AML dari dokter.
Hari-hari Anggara kemudian banyak diisi dengan pemeriksaan darah, obat-obatan, kemoterapi, rawat inap, serta menghadapi berbagai efek samping pengobatan.
Berawal dari Keluhan Gusi Bengkak, Terungkap AML dan Harus Kemoterapi
Heri membeberkan bahwa awalnya Anggara mengalami pembengkakan pada gusi yang tidak kunjung membaik dan langsung membawanya untuk pemeriksaan medis.
Setelah pemeriksaan awal, terungkap ada kelainan yang membuat Anggara harus pemeriksaan darah RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
“Setelah serangkaian pemeriksaan, pada awal Juli 2026 Anggara didiagnosis menderita Acute Myeloid Leukemia (AML),” ujar Heri dalam keterangannya, dikutip pada Kamis, 24 September 2026.
“AML ini kanker darah yang berkembang cepat dan menyebabkan sumsum tulang menghasilkan sel darah abnormal. Jadi, Anggara harus segera menjalani kemoterapi intensif secara bertahap untuk menekan dan menghilangkan sel leukemia serta mencapai remisi,” jelasnya.
Efek pengobatan juga harus dihadapi oleh Anggara, seperti sariawan dan gangguan rongga mulut, penurunan daya tahan tubuh, demam, serta beberapa kali mimisan.
Anggara Bersiap untuk Kemoterapi Fase Keempat
Terbaru, pada Rabu, 23 September 2026, Anggara kembali ke RSUP Dr. Sardjito untuk kontrol sekaligus mempersiapkan masuk kamar rawat inap dan memulai kemoterapi fase keempat.
“Hasil pemeriksaan hari ini secara umum memberikan cukup banyak hal yang bisa kami syukuri. Setelah tubuh Anggara diberi waktu untuk pulih dari fase sebelumnya, kondisi darahnya menunjukkan pemulihan yang baik,” tulis Heri dalam unggahannya di akun Threads, @heri_nurdiyanto, dikutip pada Kamis, 24 September 2026.
Angin segar dirasakan dengan hasil pemeriksaan yang baik dari sinyal tubuh Anggara.
Trombosit yang sebelumnya sempat turun kini sudah kembali membaik, demikian juga hemoglobin yang menunjukkan perkembangan positif.
Fungsi hati dan ginjal juga dalam kondisi baik berdasarkan pemeriksaan hari ini.
Ada peningkatan pada sel darah putih dan neutrofil.
Karena itu, hasil ini tetap akan dibaca bersama kondisi klinis Anggara dan menjadi bagian dari evaluasi dokter sebelum pengobatan berikutnya dimulai.
“Bagi kami, hasil laboratorium bukan lagi sekadar lembaran pemeriksaan. Di baliknya ada perjalanan panjang tubuh seorang anak setelah menerima kemoterapi. Ada masa ketika darahnya turun, ada hari-hari ketika kami menunggu neutrofil kembali naik,” lanjut Heri.
“Ada trombosit yang pernah membuat kami harus lebih waspada terhadap perdarahan. Ada nafsu makan yang menurun. Lalu, perlahan tubuhnya bangkit kembali. Hari ini kami melihat proses itu sekali lagi dan sekarang waktunya mempersiapkan diri untuk fase keempat,” sambungnya.
Harapan Melihat Kesembuhan sang Buah Hati
Berbagai upaya dilakukan untuk bisa melihat Anggara kembali menjalani aktivitas normal seperti anak-anak seusianya.
Namun, Heri tak menampik bahwa ada sejumlah biaya besar di depan mata untuk bisa mencapai momen tersebut.
Setidaknya, dibutuhkan biaya pengobatan sekitar Rp913 juta yang dipersiapkan untuk pengobatan lanjutan dan transplantasi stem cell apabila direkomendasikan oleh dokter.
Rencana penggunaan dana meliputi Rp80 juta untuk pemeriksaan dan persiapan transplantasi, Rp500 juta untuk prosedur transplantasi stem cell, Rp150 juta untuk rawat inap dan perawatan intensif, Rp80 juta untuk obat dan terapi pendukung, Rp60 juta untuk pemeriksaan serta kontrol pascatransplantasi, dan Rp43 juta untuk transportasi serta kebutuhan pendamping selama pengobatan.
Anggara sangat membutuhkan bantuan agar dapat melanjutkan seluruh rangkaian pengobatan AML, termasuk kemungkinan transplantasi stem cell tersebut apabila direkomendasikan dokter.
Selama ini keluarga telah berusaha memenuhi berbagai kebutuhan pengobatan, pemeriksaan, obat-obatan, transportasi, dan pendampingan.
Namun, kebutuhan pengobatan lanjutan diperkirakan mencapai Rp913 juta adalah jumlah yang sangat besar jika harus ditanggung sendiri.
Oleh karena itu, keluarga meminta dukungan untuk membantu perjuangan Anggara meraih kesembuhannya melalui tautan https://kitabisa.com/campaign/bantuanggarasembuh.
“Sekecil apa pun bantuan yang diberikan akan sangat berarti untuk langkah Anggara menuju kesembuhan. Kami ingin melihatnya kembali sehat. Kembali sekolah, bercanda bersama teman-temannya dan tumbuh dewasa mengejar cita-citanya,” pungkas Heri. ***





