BERITABATAM.COM, Jakarta – Mobil baru yang dipasarkan di Indonesia semakin dibekali teknologi keselamatan aktif atau Advanced Driver Assistance Systems (ADAS).
Fitur seperti pengereman otomatis, pemantau titik buta, hingga penjaga jalur dirancang membantu pengemudi menghadapi potensi bahaya.
Namun, keberadaan teknologi tersebut tidak menjamin mobil terbebas dari kecelakaan.
ADAS bekerja melalui kombinasi kamera, radar, dan sensor untuk mengenali kondisi tertentu di sekitar kendaraan.
Sistem kemudian memberikan peringatan atau melakukan intervensi, seperti membantu pengereman dan mengoreksi arah kemudi.
Persoalannya, kemampuan tersebut memiliki batas. Karena itu, mobil dengan banyak fitur keselamatan belum tentu mampu mengantisipasi seluruh situasi di jalan.
Badan Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional Amerika Serikat (NHTSA) menegaskan, pengemudi bertanggung jawab atas kendali kendaraannya.
Fitur tersebut bersifat membantu, bukan mengambil alih seluruh tugas mengemudi. Pengemudi tetap harus mengendalikan kemudi, pengereman, dan akselerasi kendaraan.
“Anda, sebagai pengemudi, bertanggung jawab untuk mengemudikan kendaraan.” tulis laporan NHTSA yang dilihat Selasa, 27 Oktober 2026.
ADAS Punya Batas Kemampuan
Di Indonesia, teknologi tersebut bukan lagi sekadar konsep.
Honda Indonesia, misalnya, menawarkan Honda SENSING pada sejumlah model, termasuk Honda CR-V, Accord, dan BR-V.
Fitur di dalamnya mencakup Collision Mitigation Braking System (CMBS), Adaptive Cruise Control (ACC), serta Lane Keeping Assist System (LKAS).
Namun, Honda juga menjelaskan bahwa CMBS dirancang membantu mengurangi dampak benturan, bukan menjamin tabrakan selalu dapat dicegah.
LKAS pun bukan pengganti kendali pengemudi.
Batasan ini tercantum dalam penjelasan resmi Honda Indonesia mengenai Honda SENSING.
Artinya, konsumen perlu memahami perbedaan antara fitur yang memberikan peringatan dan teknologi yang dapat melakukan intervensi.
Peringatan tabrakan, misalnya, tidak sama dengan kemampuan menghentikan kendaraan secara otomatis.
Bahkan sistem pengereman otomatis memiliki kondisi operasional tertentu yang perlu dipahami melalui buku manual kendaraan.
Terlalu Percaya Teknologi Bisa Berbahaya
Risiko lain muncul ketika pengemudi menganggap ADAS mampu menangani situasi jalan secara mandiri.
Padahal, lalu lintas yang padat, perubahan kondisi jalan, dan perilaku pengguna jalan lain menuntut pengemudi tetap memperhatikan lingkungan sekitar.
Insurance Institute for Highway Safety (IIHS), lembaga riset keselamatan kendaraan di Amerika Serikat, mengingatkan bahwa otomatisasi parsial dapat meningkatkan risiko berkurangnya perhatian pengemudi.
Dalam evaluasi yang diumumkan pada Maret 2024, hanya satu dari 14 sistem otomatisasi parsial yang diuji memperoleh penilaian memadai untuk perlindungan terhadap penyalahgunaan dan hilangnya konsentrasi pengemudi.
Temuan itu bukan berarti semua ADAS tidak efektif, tetapi menunjukkan pentingnya sistem pemantauan pengemudi.
Jangan Hanya Terpikat Daftar Fitur
Bagi calon pembeli, memilih mobil dengan ADAS sebaiknya tidak berhenti pada banyaknya fitur dalam brosur.
Konsumen perlu mengetahui fungsi setiap sistem, batas kecepatan operasional, kondisi yang memengaruhi sensor, serta cara mengambil alih kendali ketika sistem tidak bekerja sesuai harapan.
Produsen juga perlu menjelaskan keterbatasan fitur secara transparan agar konsumen tidak salah memahami kemampuan kendaraannya.
Informasi tersebut penting, terutama ketika teknologi keselamatan menjadi salah satu pertimbangan pembelian mobil baru.
Pada akhirnya, ADAS merupakan perkembangan penting dalam keselamatan kendaraan, tetapi bukan jaminan bebas kecelakaan.
Teknologi dapat membantu mengurangi risiko dalam kondisi tertentu.
Namun, selama pengemudi masih bertanggung jawab mengendalikan kendaraan, kewaspadaan manusia tetap menjadi bagian yang tidak bisa diabaikan. (***)





