BERITABATAM.COM, Bengkalis – Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Tanjung Buton menggelar rapat koordinasi (rakor) bersama Kepolisian Resort (Polres) Bengkalis di Ruang Rapat KSOP Kelas II Tanjung Buton, Kamis, 15 Oktober 2026.
Rakor digelar dalam rangka membahas kondisi terkini terkait terbakarnya batu bara dalam palka Kapal Kargo Mother Vessel Srikandi yang terjadi di perairan Kelurahan Sungai Pakning, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis pada Kamis, 01 Oktober 2026 dini hari yang lalu.
Rapat dipimpin oleh Kepala KSOP Kelas II Tanjung Buton yang diwakili oleh Kepala Seksi Status Hukum dan Sertifikasi Kapal, Sumidi dan dihadiri oleh sejumlah petugas Polairud Polres Bengkalis, Pihak Keagenan Kapal dan jajaran KSOP Kelas II Tanjung Buton.
Dalam pemaparannya, Sumidi mengatakan, kapal kargo Srikandi yang membawa muatan 48.000 ton batu bara tersebut berlabuh di perairan Kelurahan Sungai Pakning pada 15 September 2026.
Setelah berlabuh, pada 18 September 2026, Mather Vessel Srikandi melakukan bongkar muatan dengan sistem transhipment (ship to ship) menggunakan tongkang/barge berkapasitas sekitar 2.000 – 3.000 ton untuk selanjutnya dibawa ke Jetty PLTU Tenayan Raya, Pekanbaru.
“Kabakaran batu bara terjadi pada dini hari Kamis, 01 Oktober 2026. Dan kami langsung mengambil langkah pemadaman dengan mendatangkan kapal tunda dari pihak Pertamina Sungai Pakning untuk melakukan penyiraman. Terjadinya kebakaran saat muatan tersisa sekitar 11.000 ton dan penyebabnya diperkirakan karena cuaca panas yang cukup ekstrim yang melanda wilayah Kabupaten Bengkalis belakangan ini. ” ujar Sumidi.
Lalu ia menjelaskan, selain melakukan kerja sama dengan pihak PT. Pertamina Patra Niaga RU II Production Sungai Pakning, pihaknya juga melakukan rapat koordinasi dengan Forkopimcam Bukit Batu.
“Kita gelar rakor dengan Pemerintah Kecamatan Bukit Batu termasuk pihak Polsek dan Koramil 05/Bukit Batu dalam mengatasi musibah ini. Kami juga tetap monitor secara berkala guna memastikan keadaan tetap aman dan terkendali. Alhamdulillah api sudah padam dan bongkar muatan diperkirakan selesai hari ini,” paparnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, kedatangan kapal besar sekelas mather vessel bermuatan batu bara untuk kebutuhan PLTU Tenayan Raya, Pekanbaru di perairan Kelurahan Sungai Pakning merupakan hal biasa.
Karena, lanjutnya, kapal kargo jenis mather vessel seperti Srikandi dengan kapasitas muatan mencapai 50.000 ton tersebut tidak bisa langsung berlayar menuju Pekanbaru karena berdasarkan data alur Sungai Siak menuju Jetty PLTU hanya memiliki kedalaman terbatas (6-7 m LWS) sehingga sangat beresiko terjadinya kandas.
Ia juga menerangkan, kebutuhan batu bara untuk operasional PLTU Tenayan Raya sangat tinggi yakni mencapai 3.000 ton perhari. Maka itu, untuk menjaga suply listrik bagi Provinsi Riau agar tetap terjaga, pelayanan terhadap kapal-kapal besar seperti Mather Vessel Srikandi yang membawa batu bara tersebut menjadi hal yang diprioritaskan.
“Kelancaran alur pelayaran, sarana bantu navigasi dan proses labuh-jangkar kapal batu bara di perairan Kelurahan Sungai Pakning adalah urat nadi yang tidak terpisahkan dari operasional PLTU Tenayan Raya. Maka itu diperlukan sinergi dari semua pihak seperti KSOP, Pelindo, PLN serta instansi terkait lainnya untuk tetap saling berkoordinasi guna menjaga ketersediaan listrik bagi wilayah Provinsi Riau dan sekitarnya,” ujar Sumidi.
Selain upaya mengatasi terbakarnya batu bara dalam palka Mather Vessel Srikandi tersebut, Sumidi juga menjelaskan, KSOP Kelas II Tanjung Buton telah melaksanakan latihan bersama instansi terkait di Sungai Pakning dalam menghadapi kondisi-kondisi darurat seperti bahaya kebakaran, pencemaran dikapal dan lain sebagainya.
Sementara itu, di tempat terpisah, Kapten Kapal Kargo Mather Vessel Srikandi mengatakan, saat pihaknya membuka pintu palka setelah berlabuh, kondisi kargo batu bara dalam keadaan aman dan tidak ada titik api.
Setelah muatan dibongkar lebih dari setengah, baru timbul titik api. Mengetahui ada api dalam palka, pihaknya langsung bergegas mengupayakan pemadaman bersama pihak Pertamina.
“Kami pakai air laut untuk menyiram batu bara yang terbakar dengan menggunakan pompa. Air laut untuk menyiram dan masuk ke dalam palka tersebut kemudian kami sedot kembali lalu dialirkan ke dalam tanki air balas yang tersedia di bawah palka. Jadi tidak dibuang ke laut guna menghindari pencemaran,” jelasnya saat dikonfirmasi awak media di atas Mather Vessel Srikandi.
Lalu ia menjelaskan, timbulnya api terhadap muatan batu bara merupakan hal yang lumrah, mengingat batu bara yang merupakan salah satu bahan bakar akan mudah terbakar jika terkena panas dalam waktu yang cukup lama.
“Api terlihat di tepi dinding palka nomor 2. Timbulnya api diperkirakan karena suhu dinding palka yang panas. Penyebab lain seperti kelalaian ABK maupun lainnya tidak ada. Ini murni karena cuaca,” tutupnya. (ria fahrudin)





