BERITABATAM.COM, Anambas – Jika nama adalah doa dan juga penanda, maka Dusun Pasir Panjang di Desa Landak, Kecamatan Jemaja, sedang kehilangan jati dirinya.
Dulu, namanya adalah lukisan. Hamparan pasir putih yang memanjang dan melengkung bagai sabit, menjadi benteng alami sekaligus halaman depan bagi warga.
Di sanalah anak-anak Dusun Pasir Panjang tumbuh, berlarian mengejar ombak, dan di sanalah perahu-perahu nelayan diparkir dengan aman setelah seharian menantang laut.
Kini, lukisan itu telah pudar. Keindahan itu tinggal kenangan.
Perlahan namun pasti, pesona Pantai Pasir Panjang sirna sejak jalan pesisir dibangun tepat di atas bibir pantainya.
Pembangunan yang sudah berlangsung lama ini, meski membuka akses, justru memutus urat nadi pantai itu sendiri.
Jalan yang dibangun terlalu mepet ke laut telah mengambil alih fungsi pasir sebagai penahan ombak alami. Tak ada lagi jarak antara aspal dan air.
“Dulu Pasir Panjang ini bukan sekadar pantai, ini rumah kami. Tempat anak-anak bermain, , tempat nelayan menambatkan hidup. Pasirnya putih, panjang, persis seperti namanya. Sejak jalan itu ada, sedikit demi sedikit pasir kami hilang, dibawa air,” kenang seorang warga Dusun Pasir Panjang, Li dengan nada getir.
Kerinduan itu kini berubah menjadi kekhawatiran, karena dampaknya sudah di depan mata:
1. Ikon yang Menghilang
Ciri khas yang menjadi asal-usul nama dusun, hamparan pasir putih yang panjang dan melengkung, kini menyempit dan tergerus.
Sebagian telah berubah menjadi tanah dan material jalan. Nama Pasir Panjang terancam hanya tinggal nama di atas peta.
2. Abrasi yang Makin Mengancam
Tanpa benteng pasir yang luas, laut kehilangan remnya.
Saat pasang tinggi dan musim angin utara tiba, ombak tak lagi pecah di pasir, melainkan langsung menghantam keras badan jalan.
Jalan yang dibangun untuk memudahkan, kini justru harus bertahan dari hantaman laut setiap tahun.
3. Nelayan Kehilangan Halaman
Bagi nelayan tradisional Desa Landak, pantai adalah garasi alami. Kini mereka kesulitan menarik perahu ke tempat yang aman.
Bibir pantai yang dulu landai dan luas, telah berubah fungsi menjadi bahu jalan yang keras dan sempit.
Ironis. Di saat Kepulauan Anambas gencar mempromosikan wisata bahari kelas dunia, salah satu permata di Jemaja justru meredup oleh pembangunan yang kurang bersahabat dengan alam.
Padahal, dengan konturnya yang melengkung indah dan potensi baharinya, Pasir Panjang di Desa Landak sangat layak menjadi destinasi unggulan, bukan sekadar jalan lintas.
Kini warga hanya berharap ada keseimbangan.
Pembangunan infrastruktur memang penting, namun jangan sampai mengorbankan anugerah alam yang menjadi sumber kehidupan dan identitas mereka.
Mereka menanti evaluasi dan penataan kembali yang lebih bijak, agar Pantai Pasir Panjang tidak benar-benar sirna, dan agar anak cucu mereka masih bisa merasakan arti dari kata “Pasir Panjang” yang sesungguhnya. (ropi kahardi)





