BERITABATAM.COM, Anambas – Di sebuah pulau kecil di ujung utara laut Indonesia, lahirlah sebuah kisah yang membuat dada setiap orang Anambas bergetar haru.
Namanya Qayz Algebra, pelajar SMP Negeri 2 Siantan, yang baru saja membawa pulang kebanggaan luar biasa dari panggung internasional.
Remaja yang akrab disapa Geba ini bukan sekadar mewakili sekolah atau daerahnya.
Ia tampil sebagai salah satu wakil Indonesia dalam ajang Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) 2025, forum diplomasi bergengsi yang mempertemukan ribuan pelajar dan mahasiswa dari 45 negara di Kuala Lumpur, Malaysia.
Bayangkan, dari sebuah kepulauan kecil yang jauh dari hiruk pikuk kota besar, seorang anak muda berani berdiri sejajar dengan delegasi dari berbagai belahan dunia.
Dengan percaya diri ia berbicara, berdebat, dan membangun konsensus layaknya seorang diplomat muda di sidang PBB.
“Luar biasa, saya tidak menyangka bisa mewakili Indonesia. Di forum itu, kami berdiskusi dengan teman-teman dari 45 negara, saling berbagi ide, dan mencari solusi untuk persoalan dunia,” kata Geba dengan mata berbinar, menahan rasa haru sekaligus bangga, pada Senin 15 September 2025.
Kisah Geba adalah bukti nyata bahwa keterbatasan geografis tak bisa mengurung kualitas.
Dari pulau yang dikelilingi laut, lahir tekad besar untuk melampaui batas.
Ia tidak hanya membawa nama sekolah, tapi juga mengibarkan nama Anambas di kancah internasional.
Tak tanggung-tanggung, Geba berhasil meraih Verbal Commendation Award, sebuah penghargaan yang diberikan kepada delegasi dengan keterampilan diplomasi, komunikasi, dan negosiasi terbaik.
Di hadapan peserta dari puluhan negara, ia tampil berani menyampaikan argumen, mempertahankan posisi, dan mengajak dunia untuk mendengar suara Indonesia.
Apa yang ia capai tentu bukan hasil kebetulan. Sehari-hari, Geba dikenal aktif sebagai Ketua Forum Anak Kabupaten Kepulauan Anambas.
Dari sana, ia belajar menyuarakan aspirasi, melatih kepemimpinan, dan membangun rasa percaya diri. Modal itu kemudian membawanya melangkah lebih mantap di forum internasional.
Di balik Geba, ada keluarga yang selalu mendukung.
Edward dan Reny Perdayanti, kedua orang tuanya, memberi ruang penuh bagi putra sulung mereka untuk berekspresi.
“Kami hanya ingin anak-anak berani bermimpi besar dan tidak takut mencoba,” ucap sang ibu.
Sekolah, guru, hingga pemerintah daerah pun ikut menyemangati.
Mereka sadar, keberangkatan Geba ke AYIMUN bukan hanya tentang seorang anak, melainkan tentang harapan seluruh masyarakat Anambas.
Dari ruang-ruang kelas sederhana di pulau kecil, lahir seorang anak yang mampu menunjukkan pada dunia bahwa mimpi besar bisa bertumbuh di mana saja.
Bahwa tidak perlu berasal dari kota besar untuk bisa bicara di forum internasional.
“Ke depan saya ingin anak-anak Anambas percaya diri, berani bermimpi besar, dan yakin bahwa kita juga bisa berdiri di panggung dunia,” kata Geba penuh semangat.
Kini, langkah Geba menjadi inspirasi.
Ia seakan menyampaikan pesan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang, melainkan pijakan untuk melompat lebih tinggi. Bahwa setiap anak muda di pulau-pulau bisa bersuara lantang untuk dunia.
Dan dari Anambas, gema itu sudah terdengar. Lewat Geba, dunia kini tahu: dari lautan luas yang tenang, tumbuh generasi yang siap berlayar menuju masa depan penuh harapan. (ria fahrudin)




