BERITABATAM.COM, Jakarta – Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA, SMK, MA, dan Paket C Tahun 2025 telah berlangsung pada 3-6 November 2025 dan informasi hasil TKA sudah bisa diakses pada 23 Desember 2025 melalui DKHTKA.
Dan mulai Senin 5 Januari 2025, Sertifikat Hasil TKA (SHTKA) sudah mulai bisa dicetak dan didistribusikan melalui satuan pendidikan masing-masing setelah proses verifikasi DKHTKA selesai.
TKA telah selesai dilaksanakan dan hasil sudah keluar.
Di tengah berbagai diskusi dan perdebatan yang muncul berkaitan dengan TKA, melalui partisipasi yang masif, TKA, baik secara proses maupun hasil, bagaimanapun telah memberi data objektif tentang kualitas akademik siswa Indonesia dan dapat menjadi awal yang baik bagi upaya-upaya peningkatan kualitas pendidikan.
Secara proses, kehadiran TKA disambut dengan gairah yang cukup tinggi.
Data akhir dari Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) mencatat angka pendaftar yang tinggi, yakni 3.518.167 siswa dari 43.918 sekolah di seluruh penjuru negeri.
Tingginya antusiasme siswa mengikuti TKA menjadi indikator kuat adanya dukungan dan koordinasi yang positif dari para pemangku kepentingan (stakeholders) akan adanya sebuah standarisasi penilaian yang objektif.
Adapun secara fungsi, TKA dirancang sebagai instrumen pemetaan pendidikan nasional.
TKA menjadi upaya pemerintah dalam mengevaluasi dan memetakan Pendidikan Nasional dalam rangka memberikan layanan pendidikan bermutu untuk semua.
Ketika hasil TKA sudah dirilis melalui situs resmi pada 23 Desember 2025 lalu, kita langsung dihadapkan pada realitas yang cukup pahit.
Rata-rata nilai TKA siswa Indonesia untuk mata pelajaran wajib seperti Matematika dan Bahasa Inggris masih sangat rendah atau jauh dari harapan.
Di samping itu, dari data hasil TKA 2025 ini melihat terdapat kesenjangan mencolok antarmata pelajaran.
Mata pelajaran Antropologi (70.43) dan Geografi (70.36) mencatatkan nilai tertinggi, mata pelajaran fundamental atau mapel wajib seperti Bahasa Inggris (24.93) dan Matematika Wajib (36.10) justru berada di titik yang mengkhawatirkan.
Meski demikian, kita mesti kembali menyadari tujuan awal TKA sebagai instrumen pemetaan capaian pendidikan nasional. Rendahnya skor TKA siswa ini bukanlah alat penghakiman bagi siswa.
Sebaliknya, hasil ini adalah potret jujur yang menunjukkan realitas pendidikan kita, di mana kualitas dan kemampuan akademik siswa masih jauh dari harapan. Dari sana, kita bisa menentukan langkah dan strategi yang tepat untuk memperbaikinya.
Meminjam pemikiran Linda Elder (2020) tentang berpikir kritis, data hasil TKA dapat menjadi “intellectual self-defense” bagi pengambil kebijakan.
Hasil TKA memberikan data presisi bagi pengambil kebijakan, mulai dari Kementerian, Dinas Pendidikan, hingga guru dan semua stakeholders pendidikan untuk melakukan evaluasi berbasis bukti (evidence-based policy).
Data hasil TKA pada dasarnya akan menjadi rujukan pengambil kebijakan dalam memetakan capaian pendidikan antarwilayah dan dasar dalam menyusun berbagai kebijakan untuk meningkatkan mutu pembelajaran secara berkelanjutan.
Melihat begitu rendahnya nilai TKA untuk mapel Matematika, misalnya, menunjukkan masih adanya masalah pada literasi numerasi dasar.
Persoalan ini harus ditangkap dengan cermat oleh pendidik agar segera diperbaiki.
Misalnya melalui skema perbaikan pembelajaran (Assessment for Learning) yang lebih efektif.
Selain itu, bagi siswa, hasil ini menjadi cermin diri untuk memetakan kekuatan dan kelemahan mereka sebelum melangkah ke jenjang perguruan tinggi negeri.
Instrumen soal TKA memang dirancang berbasis model HOTS untuk mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi.
Soal-soal TKA berbasis HOTS ini menuntut berpikir dan bernalar, bukan hanya sekadar mengingat atau mengulang informasi.
Sejalan dengan pendapat pakar pendidikan Andreas Schleicher (2021)dari OECD, pendidikan modern memang harus beralih dari sekadar menghafal konten menjadi penguasaan penalaran.
TKA memberikan keadilan bagi siswa dari berbagai daerah untuk mengukur kemampuan mereka dengan standar nasional yang sama.
Dari sana, talenta dari berbagai pelosok negeri dapat dipotret dan terukur secara adil serta setara dengan standar nasional.
Skor TKA telah memberi potret jujur tentang kualitas dan capaian akademik pendidikan kita.
Dari sana, semua pihak mesti berefleksi dan melakukan evaluasi untuk memperbaiki dan meningkatkannya.
Data capaian akademik siswa yang objektif ini selama ini tidak bisa didapatkan di tengah nilai rapor yang bias karena memiliki standar yang cenderung beragam setiap sekolah.
Secara proses, TKA berhasil membangun partisipasi.
Secara hasil, TKA memberikan kejujuran akademik.
Meskipun nilai rata-rata skor TKA nasional saat ini mengungkap adanya tantangan besar dalam meningkatkan kemampuan akademik siswa, kejujuran data ini jauh lebih berharga daripada angka tinggi yang semu.
Terlepas dari masih adanya kekurangan yang harus terus dievaluasi, TKA 2026 adalah langkah berani untuk keluar dari zona nyaman.
Lancarnya proses dan tingginya partisipasi pantas diapresiasi. TKA memberi dampak positif melalui adanya data yang kredibel dan objektif, sehingga kita tidak lagi meraba-raba dalam gelap ketika bicara soal mutu pendidikan.
Kita sulit memperbaiki apa yang tidak bisa kita ukur. Setidaknya, melalui TKA, pembenahan mutu pendidikan kini memiliki titik start yang jelas.
Penulis, aktif menulis topik-topik pendidikan di berbagai platform.
Tulisannya berupa esai, opini, dan ulasan buku dimuat di berbagai media lokal dan nasional. (ria fahrudin)
Oleh: Al-Mahfud




