Beranda Uncategorized 3 Risiko Penularan Covid-19 yang Berpotensi Terjadi di Rumah Makan

3 Risiko Penularan Covid-19 yang Berpotensi Terjadi di Rumah Makan

3 Risiko Penularan Covid-19 yang Berpotensi Terjadi di Rumah Makan

Jakarta, Beritabatam.com – Sebagian orang sudah jenuh di rumah dan memutuskan keluar meski hanya sebentar. Sekadar makan di restoran, kafe, atau warung makan, mungkin akan menebus sedikit kebosanan asalkan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Covid-19, Dewi Nur Aisyah mengatakan, masyarakat yang makan di tempat umum perlu mengetahui tiga resiko penularan Covid-19 yang berpotensi terjadi.

“Terutama pada tempat makan yang tidak memiliki ruang terlalu besar, pengunjung harus memperhatikan sirkulasi udaranya, dan apakah berdesak-desakan atau tidak di dalam kedai tersebut,” kata Dewi Nur Aisyah dalam bincang virtual melalui media center graha BNPB, Rabu 6 Januari 2021.

Risiko pertama, menurut Dewi Nur Aisyah, adalah durasi makan. Pengunjung rumah makan tentu membuka masker saat makan. Bila jumlah pengunjung yang makan dalam satu meja ada lebih dari satu, maka harus diperhatikan berapa lama pengunjung ini membuka masker. Semakin lama masker dibuka, maka kian besar risiko transmisi virus Covid-19 yang terjadi.

Risiko kedua adalah menjaga jarak. Ketika datang ke rumah makan yang tempatnya tidak terlalu besar, maka pengunjung terpaksa saling berdekatan. Akibatnya, protokol kesehatan menjaga jarak tidak dapat diterapkan maksimal.

Risiko ketiga adalah ada tidaknya orang yang merokok. Kebiasaan merokok setelah makan akan meningkatkan potensi penularan virus karena orang yang sedang merokok otomatis membuka masker. Kondisi ini membuka transmisi droplet di udara.

Dewi Nur Aisyah menjelaskan, tiga risiko tadi tidak akan berkurang meski tempat makan yang dikunjungi berbentuk bangunan terbuka. Musababnya, orang yang datang ke rumah makan umumnya tidak sekadar makan dan minum, namun juga bertemu dengan orang lain, berbincang, bahkan kumpul-kumpul.

“Kalau bisa beli saja makanan dan makanlah di rumah,” kata Dewi Nur Aisyah yang juga ahli epidemiologi dan peneliti senior di Indonesia One Health University Network. “Jangan sampai juga kedainya tutup karena tidak ada pembeli.”

(Sumber: Tempo.co)

- Advertisment -
- Advertisment -