BERITABATAM.COM, Tanjungpinang – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau terus mempercepat penataan kawasan Pulau Penyengat melalui Program Penyengat Bedelau.
Program ini menjadi komitmen melestarikan cagar budaya nasional sekaligus memperkuat identitas budaya Melayu yang menjadi bagian penting sejarah bangsa Indonesia.
Hingga Agustus 2026, penataan dilakukan secara bertahap.
Cakupannya meliputi revitalisasi jalan dan drainase, peningkatan penerangan, penataan permukiman, perbaikan fasilitas di situs bersejarah, hingga pengembangan lanskap dan ruang interpretasi yang memperkuat nilai sejarah dan budaya Pulau Penyengat.
Gubernur Kepri Ansar Ahmad menegaskan penataan Pulau Penyengat merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga warisan sejarah, budaya, dan bahasa Melayu yang berperan besar dalam lahirnya Bahasa Indonesia.
“Pulau Penyengat bukan sekadar destinasi wisata, tetapi pusat peradaban Melayu yang menyimpan jejak penting lahirnya identitas kebangsaan. Penataan harus menyeluruh agar nilai sejarah, budaya, dan edukasinya tetap terjaga untuk generasi mendatang,” ujar Ansar, Rabu 5 Agustus 2026.
Menurut Ansar, Pulau Penyengat memiliki posisi strategis dalam sejarah bangsa.
Pulau yang pernah menjadi pusat Kesultanan Riau-Lingga ini melahirkan karya besar, termasuk pemikiran Raja Ali Haji sebagai fondasi bahasa Melayu modern dan cikal bakal Bahasa Indonesia.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Pemprov Kepri tengah menyiapkan pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional dengan konsep open museum yang terintegrasi dengan kawasan cagar budaya.
Proyek multiyears ini ditargetkan selesai dan diresmikan pada 2028, bertepatan dengan 100 Tahun Sumpah Pemuda.
“Kita ingin menghadirkan museum yang tidak hanya menyimpan artefak, tetapi menjadi ruang edukasi yang hidup. Masyarakat bisa belajar langsung tentang perjalanan bahasa Indonesia, sejarah Kesultanan Riau-Lingga, hingga peran Raja Ali Haji,” kata Ansar.
Untuk mewujudkan program ini, Ansar telah membawa rencana pengembangan Pulau Penyengat ke pemerintah pusat bersama Kementerian Kebudayaan, Bappenas, dan Kementerian PU agar mendapat dukungan optimal sebagai kawasan strategis nasional bidang sejarah, budaya, dan pendidikan.
Selain destinasi wisata sejarah dan religi, penataan juga diarahkan mendorong ekonomi masyarakat melalui pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM.
“Melalui Program Penyengat Bedelau, kita menjaga warisan sejarah sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Ketika kawasan ini tertata dan dikenal luas, ekonomi masyarakat akan tumbuh tanpa menghilangkan nilai sejarah dan budaya yang menjadi ruh Pulau Penyengat,” tutup Ansar. (ria fahrudin)




